BENGKULU-Permintaan jagung pipilan kering di Kota Bengkulu pekan ini meningkat, terutama dari kalangan peternak ayam potong, ayam petelur, dan industri makanan.
“Biasanya setiap hari menghabiskan 20 kilogram, tetapi beberapa hari terakhir rata-rata 35 kilogram untuk jagung pipila kering dan 25 kilogram jagung olahan,” jelas seorang pedagang jagung di Kota Bengkulu Totok di Bengkulu, Jumat (21/9).
Dia mengatakan pasokan jagung di daerah itu selain dari produksi lokal juga didatangkan dari Lubuklinggau, Sumatra Selatan dan Lampung. Produksi jagung lokal itu, saat ini mulai masuk pasar, terutama dari Rejang Lebong dan Kepahiang, tetapi kualitasnya sebagian besar kurang baik.
Kualitas jagung pipilan kering yang cukup baik berasal dari kebun masyarakat di sepanjang kawasan pantai dan bantaran sungai seperti di Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu, dan beberapa daerah di Kabupaten Kaur.
“Kalau produksi jagung pipilan dari sentra di Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang, bukan untuk jagung tua melainkan produksi jagung muda. Produksi jagung tua dari dua daerah itu, bila diolah menjadi makanan hasilnya kurang bagus dibandingkan dengan jagung di wilayah pantai,” jelasnya.
Petani jagung di Bengkulu selama ini belum mendapat jaminan pasar yang jelas dan dukungan modal dari koperasi, sehingga mereka tidak bergairah untuk menanam dalam jumlah luas.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Bengkulu Rahman mengatakan pasokan jagung itu tergantung musim. Ada kalanya, produksi lokal cukup banyak dan sebagian dipasarkan ke luar Bengkulu.
“Namun, sebaliknya saat produksi berkurang, pedagang memasok jagung kering dari luar Bengkulu karena kebutuhan jagung bagi pengusaha peternak lokal cukup banyak,” ujarnya. (Ant/esu)
online casino
