BANDA ACEH-Pengrajin tahu dan tempa di Banda Aceh, Aceh tetap berproduksi seperti normal, meskipun terjadi lonjakan harga kedelai pada bulan ini.
Mereka tidak melakukan mogok seperti yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Bahrum salah satu pengrajin tahu Ulee Kareng, Banda Aceh, mengatakan dirinya mengabaikan kenaikan harga kedelai menjadi Rp8.000 per kg dari Rp6.000 per kg pada April 2012.
Dia mengakui kenaikan harga ini sangat mempengaruhi
persediaan dan biaya produksi, tetapi dirinya tidak ingin melakukan mogok seperti yang terjadi pada sejumlah daerah di Indonesia.
“Saya tidak sepakat dengan himbauan mogok itu karena tahu juga merupakan kebutuhan masyarakat. Bagi kami di sini, asosiasi pengrajin tahu dan tempe, kami naikkan harganya sedikit tidak terlalu banyak, atau dikurangi komposisi ukurannya dengan memperkecil ketebalannya,” ujar Bahrum (25/7).
Namun, bagi Bahrum yang juga bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang terpenting saat ini adalah Pemerintah harus mampu memdorong produksi kedelai yang merupakan bahan baku utama tahu, sehingga tidak bergantung kepada impor.
“Kami tidak habis pikir, negara kita ini agraris, kenapa kedelai harus didatangkan dari Amerika,” ujar Bahrum.
Dia menambahkan dengan kenaikan harga, daya beli masyarakat sedikit berkurang dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, tetapi produksinya semakin meningkat dengan masuknya bulan puasa sebanyak tiga kali lipat dari sebelumnya.
Sebelum bulan Ramadhan, dia hanya memproduksi 300 kg per hari, tetapi memasuki bulan puasa bisa memproduksi hampir satu ton. Dia menyebutkan kebutuhan kedelai di Aceh pada kondisi normal mencapai 25 ton per hari.
“Namun, untuk memenuhi permintaan selama bulan puasa, kami sudah mempersiapkan stoknya, walaupun sedikit kuwalahan. Kami mencari kedelai di pasar Lambaro tidak ada stoknya, tapi kita mempunyai gudang di Ulee Lheue,” jelas Bahrum. (K33/esu)
