MEDAN: Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia mendesak pemerintah menurunkan pungutan ekspor crude palm oil (CPO) menyusul turunnya harga tandan buah segar (TBS) ditingkat petani menjadi Rp800 per kilogram.
Sekjen Asosiai Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad mendesak pemerintah agar tanggap dengan menurunkan biaya pungutan ekspor CPO yang berdampak pada penurunan harga TBS ditingkat petani.
“Pemerintah jangan mau enaknya saja. Kalau harga minyak sawit naik, buru-buru menaikkan biaya pungutan ekspor. Akan tetapi, jika harga CPO turun pungutan ekspor tidak cepat direspon dengan merevisi tarif sebelumnya,” ujarnya menjawab Bisnis di Medan, Jumat (6/7).
Menurutnya, petani sawit di Sumatera Utara saat ini hanya menerima harga TBS Rp800 per kilogram. Malahan, lanjutnya, petani sawit di Aceh sudah sebulan lebih menerima harga TBS Rp600 per kilogram.
Persoalannya, tegasnya lagi, petani menjerit karena harga TBS merosot, pemerintah tidak segera meresponnya dengan menurunkan biaya pungutan ekspor yang ditetapkan sebelumnya.
“Pemerintah selalu menunggu sebulan kemudian, baru merevisi pungutan ekspor,” ujarnya.
Hal ini, paparnya, berdampak pada anjloknya harga TBS ditingkat petani yang selama ini menerima beban pungutan ekspor CPO.
Sementara itu, D. Nainggoan, seorang petani sawit di Labuhanbatu, Sumut mengakui harga TBS saat ini di sentra produksi sawit Sumut itu antara Rp800-Rp1.000 per kilogram.
“Jarang harga bisa mencapai Rp1.000 per kilogram. Kalaupun ada hanya di pabrik kelapa sawit tanpa kebun,” tuturnya.
Dia berharap pemerintah membantu petani di saat harga sedang anjlok seperti ini, misalnya dengan memerintahkan PKS milik BUMN perkebunan menyerap seluruh tandan buah segar (TBS) petani.
Dengan demikian, lanjutnya, petani tidak sampai mengalami kerugian besar akibat penurunan harga TBS.
Dia mencontohkan Pemerintah Thailand pernah melakukan pembelian karet rakyat akibat harga ditingkat petani sangat rendah.
“Semua produksi karet rakyat di Thailand diserap dan dibeli pemerintah. Indonesia juga bisa mencontoh Thailand, sehingga petani sawit tidak menjadi santapan para pedagang perantara,” tuturnya. (esu)online casino
