BANDA ACEH: Kesuksesan kadang-kala datang melebihi ekspektasi manusia, seperti yang dialami oleh Widya Wicaksana, General Manager Koperasi Pemasaran Masyarakat Aceh (Kopemas).
Dalam kurun waktu 5 bulan, pendapatan Kopemas sudah mencapai 300 juta per bulan. Koperasi petani ini menargetkan pendapatan hingga 800 juta sampai 900 juta per bulan. Kopemas juga mampu menjangkau 23 koperasi petani di Aceh.
Widya Wicaksana memulai kegiatan ini dari Proyek Ekonomi Sosial Aceh Terpadu (PESAT), subproyek dari Economic Development Financing Facility (EDFF) dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) dana hibah Multi Donor Fund (MDF).
“Awalnya kami mikir bagaimana memasarkan produk dari petani, sebab produk ada dan layak dijual. Ini probelm yang dihadapi oleh petani,” ujar Widya Wicaksana, saat ditemui Bisnis di Kantor PESAT, Lueng Bata, Banda Aceh.
Banyak hasil produk petani di Aceh yang bisa dijual ditingkat lokal dan luar Aceh mendorong Lembaga PESAT untuk mencari cara memasarkan hasil petani di Aceh.
Kopemas berperan sebagai koperasi sekunder yang memberikan pendidikan kepada koperasi primer milik petani di Kabupaten Pidie dan Kabupaten Nagan Raya.
Kabupaten Pidie dikenal salah satu kabupaten yang memproduksi gabah terbanyak di Aceh, tetapi petani belum bisa mengolah gabah itu menjadi padi yang berkualitas, sehingga kebutuhan beras Aceh masih tergantung dari luar provinsi.
Sebenarnya tidak hanya di Pidie, hampir semua kabupaten di Aceh memiliki lahan sawah. Malahan produksi pada di provinsi jika diperhitungkan masih surplus jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi masyarakt
“Namun tidak petani padi mampu mengelah dan mengemas dengan kualitas yang bagus. Sekarang kami mengemas beras petani untuk dipasarkan, kami mengolah dipabrik sendiri dan mengemas sehingga menjadi beras berkualitas,” ujar Widya.
Hasilnya, produk Kopemas bisa laku di pasaran dan meningkatkan pendapatan petani, sekaligus meningkatkan kualitas beras yang diproduksi oleh sejumlah kabupaten di provinsi paling timur Indonesia ini.
Lebih konkrit lagi, koperasi sekunder yang mulai berdiri awal 2012 ini, kini mampu memasarkan beras untuk kebutuhan lokal mencapai 300 ton per bulan, targetnya akhir tahun 2012 ini mampu memasarkan sebanyak 900 tahun per bulan.
Sasaran pasar beras produksi koperasi itu, masih di pasar lokal yang kebutuhannya cukup besar dan masih berpotensi ditingkatkan. Tidak menutup kemungkinan beras produk Aceh ini akan dipasarkan keluar Aceh.
“Target pemasaran kami segmen atas. Memang kami posisikan beras ini yang mahal memang, supaya nilai tambah buat petani bisa lebih baik. Alasan kami menjual mahal ini dijalamin kualitasnya bagus,” tutur Widya.
Tidak hanya beras
Kopemas juga mengekpor emping, ikan tawar kepiting lunak, tetapi masih dalam jumlah terbatas.
Kembangkan sayap
Usaha koperasi ini terus berkembang pesat, belum sampai setahun sudah mampun mengembakan sayapnya kepada 23 koperasi petani di Aceh. Kopemas membantu petani meningkatkan kinerja yang diharapkan berpengaruh terhadap peningkatan penghasilan masyarakat.
“Pembinaan terhadap koperasi-koperasi masih terus kami lakukan, sehingga ini memang betul-betul menjadi usahanya petani,” tambah Widya.
Setelah berhasil membangun pabrik pengolah padi milik Kopemas, pihaknya bercita-cita membangun mini market yang berbeda dengan mini market khusus menyediakan produk petani saja, misalnya beras, emping, ikan tawar, dan jenis makanan lain.
“Harapan Kopemas, Aceh bukan lagi pembeli tapi menjual ke keluar,” ujar Widya. (esu)online casino
