STABAT: Produksi petani kedele Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, selama lima tahun terakhir berfluktuasi, namun untuk tahun 2010, produksi kedele bisa mencapai 2.080 ton.
“Berkurangnya produksi petani kedele karena fluktuasi harga kedele di pasaran,” kata Sekretaris Dinas Pertanian Langkat, Mahruzar Nasution, di Stabat, Senin 21 November 2011.
Produksi kedele itu turun bila dibandingkan dengan produksi kedele tahun 2009 yang mencapai 4.528 ton, katanya.
Dari monitoring yang dilakukan, petani enggan menanam kedele salah satunya karena harga yang tidak menentu.
Selain pengaruh harga, pengaruh lainnya yang cukup besar adalah masuknya kedele import yang harganya di pasaran cukup murah.
Kondisi itu menyebabkan minat petani semakin berkurang untuk menanam kedele, katanya.
Padahal industri home rumah tangga seperti tahu dan tempe sangat membutuhkan kedele, namun karena harga kedele lokal mahal, menyebabkan konsumen beralih ke kedele impor.
Sementara itu, Kepala Bidang Agrobinis dan Penyuluhan Dinas Pertanian Langkat, Nur Supandi, menjelaskan bahwa lima tahun terakhir ini produksi kedele petani Langkat berfluktuasia.
Pada 2006, luas panen komoditas ini mencapai 2.019 hektare dengan produktivitas 14,00 kwintal per hektare dan produksinya 2.827 ton.
Tahun lalu, kata Nur Supandi, luas panenan 1.444 hektare dengan produktivitas 14,37 kwintal per hektare dan produksinya 2.080 ton. (antara)online casino
