MEDAN: Harga karet alam di pasar internasional mencapai US$6 per kilogram atau tertinggi sejak perang Dunia ke-2.
Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Medan Amal Bakti Pulungan mengatakan harga karet sudah melewati angka psikologis US$5 per kilogram setelah bulan ini harga karet alam mencapai US$6 per kilogram atau tertinggi sejak perang Dunia ke-2.
“Harga karet alam memang benar-benar di luar perkiraan semua pihak karena sudah tiak rasional. Saat ini harga karet alam mencapai US$6 per kilogram dan akan tetap bertahan tinggi karena besarnya permintaan dari RRC dan Amerika Serikat,” ujarnya kepada Bisnis di Medan, kemarin.
Menurut dia, tahun lalu harga karet baru menyentuh US$5 per kilogram karena anomali cuaca yang membuat produksi karet dunia turun 5%-10%. Negara produsen karet alam dunia seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia mengalami penurunan produksi yang relatif tinggi, sehingga pasok karet alam ke pasar global menurun.
Kemudian, lanjut dia, membaiknya perekonomian negara maju seperti Amerika Serikat dan China membuat permintaan karet semakin tinggi. Produsen otomotif Amerika dan China merupakan penyerap pasar terbesar karet alam dunia tahun lalu.
Melonjaknya permintaan kedua negara, tuturnya, tidak dapat diimbangi tiga negara produsen karet alam di dunia seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Akibatnya, jelas dia, harga naik sangat signifikan.
Kemudian, lanjut dia, kondisi geopolitik di Afrika a.l. Mesir yang memicu kenaikan harga BBM membuat karet sintetis tidak mampu bersaing lagi dengan karet alam. Dengan demikian produksi karet sitetis, tuturnya, berhenti dan pembelinya mencari karet alam di pasar bebas.
Negara-negara produsen otomotif, kata Amal Bakti, memburu karet alam untuk mempertahankan pangsa pasar ban dan otomotif. Oleh karena itu, lanjutnya, terjadi rebutan di pasar internasional.
“Jadi harga karet melonjak, lebih karena faktor anomali cuaca, permintaan Amerika Serikat dan China, serta kondisi geopolitik di Afrika,” tuturnya.
Dia memperkirakan sampai sementer I/2011 harga karet akan tetap bertahan tinggi karena produksi karet alam masih mengalami anomali cuaca atau jauh di atas target produksi yang diperkirakan sebelumnya.
Dia mencontohkan PTPN III Medan tahun ini hanya memperkirakan produksi karet alam sekitar 38.000 ton atau mengalami penurunan dari produksi tahun lalu akibat musim hujan yang membuat karet tidak dapat dideres.online casino
